TATA NILAI PERAWAT: CARE,EMPHATY,DAN ALTRUISM

Tata Nilai Seorang Perawat

Sebagai seorang perawat kita harus mengetahui nilai dari suatu kanyakinan personal mengenai harga atas suatu ide,tingkah laku,kebiasaan, atau objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku.

Nilai-nila yang berhubungan satu sama lain yang membentuk suatu sistem nilai.Perawat juga telah menetapkan nilai dan harus mengembangkan kesadaran tentang bagaimana mengambangkan sistem mereka sendiri dan mempengaruhi perawatan klien terhadap sistem tersebut.Pemahaman tersebut akan membantu perawat bertindak secara profesional.

Tata nilai keperawatan adalah suatu nilai yang terkandung didalam proses caring yang dilakukan oleh perawat, serta sangat mempengaruhi berbagai tindakan keperawatan,yang merupakan rambu-rambu atau aturan-aturan yang dapat membatasi sikap,perilaku,dan etika seorang perawat.

Seorang Perawat harus memiliki sikap yang tidak dimiliki oleh orang lain seperti,peduli,ramah,sopan,perhatian,dan lain-lain. Sikap seperti inilah yang harus kita miliki sebagai seorang Perawat. Kita harus menghilangkan image tentang seorang Perawat yang selama ini orang-orang pikirkan seperti,judes,menakutkan,tidak rapih,tidak sopan,dan lain-lain. Pada hakikatnya seorang Perawat juga setia mendengarkan keluh kesah pasien, padahal siapa yang tahu dipundaknya ia memikul beban berat dan siapa yang tahu hatinya juga sakit bila sering dimarahi pasien dan selalu dianggap sebgai pembantu.Oleh karena itu sebagai seorang Perawat kita harus memiliki sikap care,emphaty,dan altruism.

A.CARE

Care adalah sikap yang ditunjukkan seorang perawat seperti,peduli,ramah,perhatian,mempunyai semangat, perawat yang murah senyum, sopan , penyayang,dan lebih  mementingkan orang lain.Care adalah sebuah nilai sedangkan caring adalah sebuah kebaikan. Dalam membangun pribadi caring perawat dapat melalui pengembangan indicator 10 caratif caring(Watson,1979) sebagai berikut:

images (4)

  1. Sistem nilai humanistik-altruistik
  2. Kepercayaan-harapan
  3. Sensitif terhadap orang lain dan diri sendiri
  4. Pertolongan-Hubungan saling Percaya
  5. Pengembangan serta penerimaan terhadap ekspresi dan perasaan positif dan negatif
  6. Penggunaan metode ilmiah, problem solving dalam pengambilan keputusan
  7. Peningkatan proses belajar-mengajar dalam interpersonal
  8. Supportif,korektif,dan protektif terhadap mental,fisik,sosiokultural dan spiritual
  9. Membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia
  10. Dikembangkan faktor eksternal phenomenologikal

Seorang Perawat harus bisa bersikap kepada klien nya.Berikut adalah kode etik Perawat dan Klien:

  1. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan social.
  2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari klien
  3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan
  4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

B.Emphathy

images (5)

Emphaty adalah berusaha menempatkan diri pada seseorang yang bersagkutan sehingga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan tersebut. Empathy juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang merasa iba melihat penderitaan orang lain dan terdorong dengan kemauan sendiri untuk menolongnya tanpa mempersoalkan perbedaan latar belakang agama, budaya, bahasa, kebangsaan, etnik, golongan dan sebagainya.  Empati berbeda dengan simpati,simpati adalah suatu keadaan jiwa yang merasa iba melihat penderitaan orang lain tanpa terdorong kemauan untuk menolongnya.

Senyum dan rasa empati adalah multivitamin dosage tinggi yang tanpa antibiotik atau obat yang super keras akan menyembuhkan rasa terpelintirnya hati seorang pasien yang sedang menderita penyakit sekeras apapun. Dan sebuah keikhlasan juga akan menyembuhkan penyakit yang diderita oleh seseorang tanpa tahu sebuah proses penyembuhan tersebut.

Seorang tokoh dunia,Florence Nightingale, wanita yang mengubah persepsi dunia bahwa perawat itu merupakan pekerjaan yang sangat muia dan terhormat. Membuat orang-orang berpikir bahwa perawat sangat  dibutuhkan kemampuannya,yang tidak semua orang memilikinya, yaitu kemampuan empati. Perilaku yang muncul dari  kemampuan empati perawat itu sendiri, diantaranya yaitu: pikiran yang optimis, tingkat pendidikan, keadaan psikis, pengalaman, usia, jenis kelamin, latar belakag sosial budaya, status sosial, dan beban hidup. Faktor-faktor tersebut diperlukan untuk menunjang perawat dalam meningkatkan kemampuan empati.

Kemampuan empati memang tidak dapat muncul dari diri seorang perawat begitu saja, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan empati, yaitu:

download (5)

  1. Peduli
  2. Berguru
  3. Berlatih

Dengan begitu maka perawat dapat meningkatkan kemampuan empatinya agar dapat lebih mengerti, memahami, dan menghayati tidak hanya kondisi fisik namun juga kondisi psikis klien. Perawat juga memiliki kemampuan untuk menghayati perasaan pasien. Perawat perlu menjaga kondisi kesehatan fisik dan psikis karena keduanya saling mempenngaruhi satu sama lain. Perawat memiliki kemampuan untuk meningkatkan kemampuan empatinya yaitu dengan bersosialisasi. Hal ini amatlah mudah bagi seorang perawat karena ia memiliki sifat terbuka terhadap orang lain,sehingga pasien akan merasa aman dan nyaman dengan keberadaannya.

C.Altruisme

download (1)

Altruisme adalah merupakan perilaku yang menggambarkan kepeduliaan dan kesejahteraan orang lain,prilaku menolong, sikap yang timbul dari diri manusia secara alami. Sikap altruisme yang ditampilkan perawat meliputi pemberian perhatian, komitmen/prinsip yang dipegang teguh oleh perawat untuk mempertahankan janji,rasa iba,kemurahan hati,serta ketekunan.

Altruisme adalah tindakan sukarela untuk menolong orang laintanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun atau disebut juga sebagai tindakan tanpa pamrih. Altruisme dapat juga didefinisikan tindakan memberi bantuan kepada orang lain tanpa adanya antisipasi akan reward atau hadiah dari orang yang ditolong (Macaulay dan Berkowitz, 1970).

 

      Menurut Baston (2002), altruisme adalah respon yang menimbulkan positive feeling, seperti empati. Seseorang yangaltruis memiliki motivasi altruistic, keinginan untuk selalu menolong orang lain. Motivasi altuistik tersebut muncul karena ada alas aninternal di dalam dirinya yang menimbulkan positive feeling sehingga dapat memunculkan tindakan untuk menolong orang lain.

Pada altruisme salah satu yang penting adalah sifat empati atau mersakan perasaan orang lain di sekitar kita. Beberapa ahli mengatakan bahwa altruisme merupakan bagian”sifat manusia” yang ditentukan secara genetika, karena keputusan untuk memberikan pertolongan melibatkan proses kognisi sosial komplek dalam mengambil keputusan yang rasional.(LatenedanDarley,Schwartz, dalam Sears, 1991).

Perawat memiliki nilai yang baik pasti akan menggali metode dan keterampilan yang diperlukan untuk memberdayakan asuhan yang sfektif(BishofdanScudder, 1990).Merekan menunjukkan kepedulian terhadap kien dengn mendukung dan meguatkan kien, sehingga klien dapat sembuh dari sakitnya, dapat mengatasi kelemahannya, dan hidup lebih sehat. Mereka peduli dengan kesejahteraan klien. Kehadiran kepedulian seringkali membantu proses penyembuhan.(BishofdanScudder, 1990).

images (11)

 Faktor-faktor yang mempengaruhi altruistic.

Menurut Myers (dalam Ginintasasi, 2008) altruisme dapat dipengaruhi oleh tiga faktor antara lain sebagai berikut.

  1. Faktor situasional merupakan faktor yang menggambarkan situasi, suasana hati, pencapaian reward perilaku sebelum dan pengamatan langsung tentang derajat kebutuhan yang ditolong serta beberapa pertimbangan yang akan mengantar dinamika diri sendiri untuk melakukan tindakan altruistik atau tidak seperti desakan waktu.
  2. Faktor interpersonal mencakup jenis kelamin, kesamaan karakteristik, kedekatan hubungan, dan daya tarik antar penolong dan yang ditolong.
  3. Faktor personal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri subyek yang menolong, mencakup perasaan subyek dan religiusitas subyek.

Beberapa penelitian psikologi sosial melihat bahwa pemberian bantuan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut (Sarwono, dalam Ginintasasi 2008).

  1. Kehadiran orang lain

images (37)

Menurut Sarwono (dalam Ginintasasi, 2008), faktor utama dan pertama yang berpengaruh pada perilaku menolong atau tidak menolong adalah orang lain yang kebetulan ada di tempat kejadian. Latane dan Darley (Sears, dalam Ginintasasi, 2008) mengemukakan bahwa kehadiran penonton yang begitu banyak mungkin memungkinkan tidak adanya usaha untuk memberikan pertolongan. Semakin banyak orang lain, makin kecil kemungkinan orang untuk menolong, sebaliknya orang yang sendirian cenderung lebih bersedia menolong.

Latane dan Nida (Sarwono, dalam Ginintasasi, 2008) orang-rang yang menyaksikan suatu kejadian seperti peristiwa pembunuhan, kecelakaan, perampokan, dan peristiwa-peristiwa lainnya mungkin menduga bahwa sudah ada orang lain yang menghubungi pihak yang berwajib sehingga kurang mempunyai tanggung jawab pribadi untuk turun tangan.

Mengapa kehadiran orang lain kadang menghambat usaha untuk menolong. Analisis pengambilan keputusan tentang perilaku sosial memberikan beberapa penjelasan. Baumeiter (Sears, dalam Ginintasasi, 2008) adalah penyebaran tanggung jawab yang timbul karena kehadiran orang lain.

Bila hanya satu orang yang menyaksikan korban yang mengalami kesulitan, maka orang itu mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan reaksi tersebut dan akan menimbulkan rasa salah dan sesal bila tidak bertindak. Bila orang lain juga hadir, pertolongan juga bisa muncul dari beberapa orang. Kedua tentang efek penonton menyangkut ambiguitas dalam menginterpretasi situasi. Analisis pengambilan keputusan menyatakan bahwa kadang-kadang penolong tidak yakin apakah situasi tertentu dapat benar-benar merupakan situasi darurat. Perilaku penonton yang lain dapat mempengaruhi bagaimana reaksi seseorang.

  1. Kondisi lingkungan

download (11)

Keadaan fisik juga mempengaruhi orang untuk memberi bantuan. Sejumlah penelitian membuktikan pengaruh kondisi lingkungan seperti cuaca, ukuran kota, dan derajat kebisingan terhadap pemberian bantuan. Efek cuaca terhadap pemberian bantuan diteliti dalam dua penelitian lapangan yang dilakukan oleh Conmingham (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008).

Dalam penelitian pertama, para pejalan kaki dihampiri diluar rumah dan diminta untuk membantu peneliti dengan mengisi kuesioner. Orang lebih cenderung membantu bila hari cerah dan bila suhu udara relatif menyenangkan relatif hangat dimusim dingin dan relatif sejuk di musim panas). Dalam penelitian kedua yang mengamati bahwa para pelanggan memberi tip yang lebih banyak bila hari cukup cerah. Menurut Ahmed (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) bahwa orang lebih cenderung menolong pengendara motor yang mogok dalam cuaca cerah dari pada dalam cuaca mendung pada siang hari dan pada malam hari.

Faktor lingkungan lainnya yang dapat mempengaruhi tindakan menolong adalah kebisingan. Methews dan Canon (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) bahwa suara bising yang keras menyebabkan orang lain mengabaikan orang lain di sekitarnya dan memotivasi mereka untuk meninggalkan situasi tersebut secepatnya sehingga menciptakan penonton yang tidak begitu suka menolong.

1.Tekanan waktu

download (6)

Penelitian menyatakan bahwa kadang-kadang seseorang berada dalam keadaan tergesa-gesa untuk menolong. Orang yang sibuk cenderung untuk tidak menolong sedangkan orang yang santai lebih besar kemungkinannya untuk memberikan pertolongan kepada yang memerlukannya.

Bukti nyata efek ini berasal dari eksperimen yang dilakukan oleh Darley dan Boston (Sears dkk, 1994) dimana ditemukan 10 % subyek yang diberikan tekanan waktu memberikan bantuan dan 63 % subyek yang tidak diberikan tekanan waktu dapat memberikan pertolongan. Dari hasil tersebut para peneliti menyatakan bahwa tekanan waktu menyebabkan seseorang dapat mengabaikan kebutuhan korban sehingga tindakan pertolongan tidak terjadi.

2.Faktor kepribadian

images (34)

Tampaknya ciri kepribadian tertentu mendorong orang untuk memberikan pertolongan dalam beberapa jenis situasi yang lain. Satow (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) mengamati bahwa orang yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial lebih cenderung untuk menyumbangkan uang bagi kepentingan amal daripada orang yang mempumnyai tingkat yang rendah untuk diterima secara sosial, tetapi hanya bila orang menyaksikannya. Orang yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh pujian dari orang lain sehingga bertindak lebih prososial agar mereka lebih diperhatikan.

3.Suasana hati

images (1)

Ada sejumlah bukti bahwa orang cenderung untuk memberikan bantuan bila mereka ada dalam suasana yang baik hati. Suasana perasaan positif yang hangat meningkatkan kesediaan untuk membantu. Efek suasana hati tidak berlangsung lama hanya 20 menit, suasana hati yang positif bisa menurunkan kesediaan untuk menolong bila pemberian bantuan akan mengurangi suasana hati yang baik (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008). Rupanya orang yang berada dalam suasana hati yang baik ingin mempertahankan perasaan mereka.

Efek suasana hati yang buruk, seperti depresi. Suasana hati yang buruk menurut Thompson (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) menyebabkan individu memusatkan perhatian pada diri individu sendiri dan kebutuhan diri sendiri maka suasana ini akan mengurangi suasana untuk membantu orang lain. Di lain pihak, bila individu berpikir bahwa menolong orang lain bisa membuat individu merasa lebih baik sehingga mengurangi suasana hati yang buruk, maka individu akan mudah memberikan bantuan.

  1. Distress diri dan rasa empatik

download (14)

Distress diri (personal distress) adalah reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, tidak berdaya, atau perasaan apapun yang dialami. Sebaliknya yang dimaksud rasa atau empatik (emphatic concern) adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagai pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. Perbedaan utamanya adalah bahwa penderitaan diri terfokus pada diri sendiri, sedangkan rasa empatik terfokus pada orang lain.

Disstres diri memotivasi seseorang untuk mengurangi kegelisahan yang dialami. Orang bisa melakukan dengan membantu orang yang membutuhkan, tetapi orang juga dapat melakukannya dengan menghindari situasi tersebut atau mengabaikan penderitaan di sekitarnya. Sebaliknya, rasa empatik hanya dapat dikurangi dengan membantu orang yang berada dalam kesulitan. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan orang lain, jelas bahwa rasa empatik merupakan sumber altruistik (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008).

download (10)

Meskipun orang-orang kadang merasa terganggu, sedih dan marah oleh cacat atau kekurangan umat manusia, namun individu mengalami ikatan perasaan yang mendalam bagi sesamanya. Konsekwensinya adalah mereka memiliki hasrat yang tulus untuk membantu sesamanya. Menurut Maslow (Koeswara, dalam Ginintasasi, 2008) sikap memelihara (nurturance attitude) adalah sikap seseorang terhadap saudaranya. Meski saudaranya lemah, bodoh, atau bahkan jahat, seseorang akan selalu menunjukkan kasih dan pengampun. Bagi orang-orang yang self-actualize, bagaimanapun cacat dan bodohnya, manusia adalah sesama yang selalu mengandung simpati dan persaudaraan.

  1. Menolong orang yang disukai

Rasa suka pada orang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya tarik fisik dan kesamaan. Penelitian tentang perilaku sosial menyimpulkan bahwa karakteristik yang sama juga mempengaruhi pemberian bantuan. Menurut Feldman (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) kesediaan untuk membantu akan lebih besar terhadap orang yang berasal dari daerah yang sama dari pada terhadap orang lain.

Bar-tal (Sears dkk, dalam Ginintasasi, 2008) mengemukakan bahwa perilaku membantu dipengaruhi oleh jenis hubungan antar orang, seperti yang terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak peduli apakah karena merasa suka, kewajiban sosial, kepentingan diri, orang lebih suka menolong teman dekat dari pada orang asing.

  1. Menolong orang yang pantas ditolong

download (9)

Apakah seseorang akan mendapatkan bantuan atau tidak sebagian bergantung pada manfaat kasus tersebut. Beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa faktor sebab akibat yang utama adalah pengendalian diri, individu lebih cenderung menolong bila individu yakin bahwa penyebab timbulnya masalah berada di luar kendali orang tersebut. Mungkin seseorang merasa simpati dan prihatin terhadap mereka yang mangalami penderitaan bukan karena kesalahan mereka sendiri.

Referensi:

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan: konsep, proses dan praktik. Edisi 4. Volume 1, Jakarta: EGC.

Bishop & Scudder. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta:EGC.

Agresi dan Altruisme.http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/agresi_dan_altruisme.pdf. 19 November 2013. (16.54)

Perry, P. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

http://www.ppnibabar.com/?p=13